Notification

×

Iklan

Iklan

Cerita Daryati TKI Pembunuh Majikan di Singapura: Ingin Pulang Hingga Pernah Diperkosa Kakaknya

Sabtu, 17 Oktober 2020 | Oktober 17, 2020 WIB Last Updated 2020-10-17T09:07:23Z

 

maja.

 Masih ingat kasus Daryati TKW yang bunuh majikannya di Singapura pada 2016? Kasus TKW bunuh majikan ini terus berlanjut.

Daryati untuk pertama kalinya memberikan kesaksian di depan hakim pada 6 Oktober 2020.

Perempuan 26 tahun asal asal Gedongtataan, Pesawaran Lampung ini sedang menjalani sidang untuk menentukan hukuman atas kejahatannya.

Daryati didakwa membunuh Ny Seow Kim Choo (59) di rumahnya di Telok Kurau, Singapura, 7 Juni 2016.

Sedangkan suami Ny Seow, Ong Kian Soon mengalami luka berat, namun masih bisa diselamatkan.

Mengutip The Times, perempuan 26 tahun itu (mengaku 2 tahun lebih muda dari usia di KTP, 28 tahun) sedang mengupayakan pengurangan hukuman, lebih ringan dari hukuman mati.

Daryati untuk pertama kalinya memberikan kesaksian di depan hakim pada 6 Oktober 2020.

Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan sisi kelam dirinya yang belum pernah diketahui khalayak.

Satu di antaranya adalah, pada masa remaja, ia kerap diperkosa oleh kakak laki lakinya.

Perkosaan yang berkepanjangan itu memberikan tekanan psikologis yang berat pada dirinya.

Untuk mengatasi itu, Daryati mengaku sering membenturkan kepalanya di dinding. Namun, beban itu tidak kunjung hilang.

Bahkan hingga menghuni tahanan empat tahun terakhir, ia masih mendapatkan konseling psikologis.

Dalam sidang pekan lalu itu, Daryati mengaku sangat marah pada Ny Seow lantaran ia tidak diizinkan pulang ke Indonesia.

Selain itu, ia juga bersikeras mengaku tidak berniat membunuh juragannya itu.

Ia mengaku, waktu itu mengacungkan pisau dapur agar Ny Seow memberikan paspor-nya.

"Kalau saya memang berniat membunuh, mengapa saya lukai di banyak tempat? Mending saya langsung saja tusuk sekali atau dua kali di satu tempat yang membuatnya langsung meninggal," kata Daryati dalam sidang itu.

Hal lain yang membuat Daryati dikuasai kemarahan adalah ia tidak bisa menghubungi kekasihnya.

Ia mengakui telah menjalin hubungan asmara dengan dua perempuan saat masih berada di Indonesia.

Tentang pacarnya yang terakhir, Daryati bertemu dengannya saat masa pelatihan sebelum berangkat merantau.

Namun sejoli ini terpaksa berpisah, karena sang kekasih ditempatkan di Hongkong, sedangkan Daryati sendiri ke Singapura, bekerja di rumah Ny Seow.

Ia mengaku bekerja di luar negeri bukan keinginan sendiri, tetapi desakan orang tuanya agar dapat membantu keuangan keluarga.

"Bukan keinginan saya untuk bekerja di Singapura," kata Daryati.

Sebetulnya Ny Seow dan suaminya Ong Thiam Soon adalah orang baik.

Ini diakui sendiri oleh Daryati. Ia mengaku diperlakukan dengan baik, mendapat makanan yang memadai dan istirahat yang cukup.

Namun, bagi Daryati itu tidak cukup, karena ia tidak diizinkan keluar rumah. Ia hanya boleh keluar rumah saat membawa jalan-jalan anjing Ny Seow.

Ia juga mengeluh tidak punya ponsel sehingga tidak bisa berhubungan dengan kekasih dan keluarganya kapanpun ia mau.

Bahkan ia tidak boleh mempunyai televisi atau radio sehingga ia bisa menikmati tontonan atau mendengar lagu-lagu untuk menghibur hatinya yang kesepian.

Dua kali ia mendapat kesempatan menggunakan telepon rumah untuk menghubungi keluarganya selama 10 menit.

Setiap kali usai menelepon itu, Daryati minta izin Ny Seow untuk pulang, namun selalu ditolak.

Dalam sidang itu, pengacara Daryati, Mohamed Muzamil Mohamed, memintanya menjelaskan satu bagian dari catatan harinya.

Catatan harian 12 Mei 2016 itu berbunyi, "Aku harus berani, meski nyawa jadi taruhannya. Aku siap menghadapi semua risiko/konsekuensinya, apapun risikonya harus diterima. Keluarga majikan lah incaranku.. MATI!!!"

Semua pengakuan itu disampaikan Daryati sebagai upaya untuk mengurangi beratnya hukuman.

Mengutip The Times, sebelumnya, Daryati dituntut hukuman mati berdasarkan pasal 300(a) UU Pidana.

Namun, pada April 2020, jaksa mengubah pasal menjadi Pasal 300 (c) dengan hukuman seumur hidup atau hukuman mati.

Dalam sidang waktu itu, tidak ada desakan untuk menjatuhkan hukuman mati.

Keringanan dakwaan itu didapat Daryati setelah ia mengaku bersalah mengakui semua bukti yang digelar selama sidang.

Namun bulan lalu, Daryati berubah pikiran lagi, ia mencabut pengakuan bersalah dengan harapan mendapatkan keringanan hukuman dengan mengandalkan bukti bukti psikiatri.(*)