Notification

×

Iklan

Iklan

Kirim Foto Syur untuk Tes Kealiman OB di Sekolahnya, Siswi SMA Justru Dipaksa Berhubungan Intim

Jumat, 13 November 2020 | November 13, 2020 WIB Last Updated 2020-11-13T13:09:05Z

 

Nasib malang dialami oleh WA (17) seorang siswi SMA di Bandar Lampung.

Berawal dari niat mengetes kealiman seorang office boy (OB), dirinya justru berakhir jadi korban rudapaksa.

Akibat aksinya tersebut, IS (34) dituntut hukuman penjara 8 tahun 6 bulan, dalam persidangan yang digelar secara telekonferensi di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (11/11/2020).

Dikutip dari Tribunbandarlampung.com, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eka Aftarini menyatakan terdakwa IS bersalah.

"Memohon kepada Majelis Hakim untuk menjatuhkan pidana hukuman penjara selama 8 tahun 6 bulan, dengan denda Rp 60 juta subsider 6 bulan," sebut Eka Aftarini.

Korban dan pelaku ternyata berada dalam satu lingkungan sekolah yang sama, dimana IS bekerja sebagai OB dan WA merupakan seorang pelajar.

Penasihat hukum terdakwa IS, Ahmad Kurniadi menyayangkan tuntutan JPU yang ia anggap berat.

"Bagi kami delapan tahun berat, karena dari hasil visum, luka pada organ vital korban memang sudah ada sejak lama," terang pengacara dari Posbakum Pengadilan Negeri Tanjungkarang ini, Rabu (11/11/2020).

Ahmad lalu menunjukkan sejumlah fakta terkait tindakan yang dilakukan oleh korban.

"Alasan mau ngetes, apakah terdakwa ini alim atau tidak," ujarnya.

Ia mengatakan kliennya juga telah menyesali sudah merudapaksa korban.

"Tapi di situ terdakwa mencoba untuk mengajak hubungan terlarang itu," ucap Ahmad.

"Klien kami sudah mengakui dan juga meminta keringanan langsung, melakukan pembelaan secara lisan setelah persidangan tadi," ujar Ahmad.

Ahmad juga meminta majelis hakim melihat kondisi terdakwa yang sudah memiliki tanggungan keluarga.

"Atas tuntutan hari ini (Rabu) kami meminta majelis untuk memutuskan perkara ini yang seadil-adilnya dan melihat fakta-fakta persidangan," tandas Ahmad.

Sempat Pacaran

JPU Eka Aftarini menjelaskan, korban dan sang OB sudah saling mengenal sejak Januari 2020 lalu.

Keduanya diketahui berkenalan lewat media sosial (medsos) Facebook.

"Selanjutnya, terdakwa dan korban berpacaran dan intens berkomunikasi," ujar Eka Aftarini.

Eka mengiyakan bahwa korban sempat mengirimkan foto syur kepada IS.

"Awalnya korban ingin memancing terdakwa, namun korban sadar atas apa yang dilakukan salah, korban langsung menarik pesan tersebut dan menghapusnya," tutur Eka Aftarini.

Ketika korban menyadari dirinya telah melakukan kesalahan fatal, semuanya sudah terlambat.

Pelaku telah menyimpan foto tersebut dan menggunakannya sebagai ancaman agar korban mau diajak berhubungan intim.

"Terdakwa kemudian membujuk korban agar mau melakukan hubungan suami istri, dengan alasan buat apa cuma mengirim foto doang," sebut Eka Aftarini.

Korban awalnya sempat menolak ajakan pelaku dengan alasan masih kecil.

"Terdakwa lalu mengancam akan menyebarkan foto korban ke sekolah dan korban merasa takut akhirnya menuruti keinginan terdakwa (melakukan hubungan suami istri) di kos-kosan terdakwa," tandas Eka Aftarini.

IS sendiri meminta keringanan dan mengaku telah menyesali perbuatannya.

"Mohon keringanan hukuman pak, saya masih ada tanggungan keluarga, saya menyesal," ungkap IS.