Notification

×

Iklan

Iklan

Gawat.... Bukan Hanya Pulau Jawa, Sesepuh Ini Ramalkan Indonesia Bisa Terbelah Jadi Dua Akibat Hal Ini

Senin, 27 Desember 2021 | Desember 27, 2021 WIB Last Updated 2021-12-27T11:59:22Z

 

Mengejutkan, bukan hanya Pulau Jawa yang diprediksi akan terbelah menjadi dua, namun sesepuh bernama Mbah Gatot yang tinggal di Desa Selo Liman, Kecamatan Trawas, Mojokerto turut meramalkan bahwa Indonesia bisa terbelah menjadi dua.

Dalam terawangannya, Mbah Gatot merasa prihatin dengan berbagai bencana alam yang terjadi di akhir tahun 2021.

Namun, ia memfirasatkan jika bencana alam tidak terjadi maka bisa saja digantikan oleh adanya perang.

“Kalau nanti tidak ada bencana, kita perang,” ungkap Mbah Gatot.

Hal tersebut sebagaimana ia sampaikan melalui kanal YouTube Ngaji Roso berjudul ‘Gawat!! Tak Hanya Jawa, Nusantara Akan Terbelah Jadi Dua-Mbah Gatot’ pada tahun 21 Desember 2021.

Mbah Gatot menjelaskan jika dikaitkan dengan masalah bencana, siklus perubahan peradaban dengan siklus politik pemerintahan tentu akan berbeda.

“Kalau dikaitkan dengan masalah bencana dan masalah perubahan peradaban siklus ini berbeda antara siklus pemerintahan, situasi politik pemerintah dan masyarakat, ini berbeda” terang Mbah Gatot.

Menurut mbah Gatot siklus pemerintahan Indonesia saat ini yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti awal mula dari terbentuknya perpolitikan di kerajaan Majapahit.

“Kalau pemerintahan sekarang ini awal Majapahit, bukan akhir Majapahit,” ujar Mbah Gatot.

“Jokowi ini ibarat Raden Wijaya Kertarajasa Jayawardhana jadi raja Majapahit pertama,” tambahnya.

Jika berbagai bencana alam telah terhenti, Mbah Gatot menerawang bahwa Indonesia bisa saja bernasib sama seperti kerajaan Majapahit yang terbelah menjadi kasultanan dan kerajaan di masa depan akibat adanya perang.

“Pada masa Majapahit jatuh, nusantara ini berkeping-keping menjadi kasultanan-kasultanan, di luar Jawa itu ada dua puluh tiga kasultanan dan kerajaan, di Jawa itu ada 45 kasultanan,” ungkap Mbah Gatot.

Mbah Gatot juga menjelaskan bahwa pada masa itu Pulau Jawa cenderung gawat, terasa senyap di malam hari dan banyak terjadi gerilya serta perampokan.