Notification

×

Iklan

Iklan

Nelayan di Aceh Minta Disuntik Mati di Depan Wali Kota Lhokseumawe penyebabnya

Minggu, 09 Januari 2022 | Januari 09, 2022 WIB Last Updated 2022-01-09T05:59:45Z


Nazaruddin Razali (59), Waduk Pusong adalah kehidupan. Merenggut Waduk Pusong darinya sama saja dengan merenggut nyawanya. Baginya, lebih baik mati daripada tak bisa lagi menangkap ikan di Waduk Pusong.

Pada Rabu, 6 Januari 2022, Nazaruddin membuat keputusan besar dalam hidupnya, mengajukan permohonan suntik mati ke Pengadilan Negeri Lhokseumawe.

Tak hanya itu, pemerintah setempat juga mengklaim air Waduk Pusong sudah mengandung limbah sehingga tak boleh lagi dipakai menangkap ikan.

sudah puluhan tahun kami makan ikan (hasil) budi daya di waduk dan setiap hari mandi (di waduk), tapi tidak mengalami masalah kesehatan," kata Nazaruddin.

Aparat yang mendatanginya saban hari membuat ingatan Nazaruddin memutar lagi kenangan kelam masa lalu.

Saya trauma, setiap hari ada aparat datang. Kejadian ini mengingatkan saya seperti zaman konflik pada masa lalu. Kami berharap penggusuran ini segera dibatalkan karena ini menyangkut kehidupan kami," kata Nazaruddin.

Harapan diungkapkan. Namun, sepertinya, pengalaman membuat Nazaruddin sadar bahwa apa yang terjadi nanti acap tak sesuai dengan harapannya.

Oleh karena itu, Nazaruddin sudah siap dengan skenario terburuk sekalipun: mengakhiri hidup.

"Jika pemerintah tak peduli lagi kepada kami, para petani keramba di Waduk Pusong, saya minta disuntik mati saja di depan Wali Kota.

Ketika keramba di Waduk Pusong digusur, bagi Nazaruddin, yang tersisa hanya gelap. "Saya harus menanggung beban untuk membiayai kehidupan istri, tiga anak, dan dua cucu. Jika usaha keramba budi daya digusur, bagaimana nasib kami. Makanya lebih baik saya disuntik mati saja," kata Nazaruddin.